SUKA #SuaraUntukKusta, Hilangkan Stigma Dan Diskriminasi Terhadap Kusta



Kusta merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan penemuan kasus baru tahunan yang stagnan selama hampir 10 tahun terakhir. Bahkan Indonesia termasuk Negara dengan peringkat ke 3 total kasus Kusta terbesar di seluruh dunia.

Kusta adalah penyakit menular yang penularannya tidak mudah, penyakit ini masuk ke dalam kategori tropis terabaikan karna sudah ada sejak tahun 1400 sebelum masehi dan masih mengintai masyarakat hingga kini.

Penyebab utama kusta masih merajalela adalah terlambatnya penanganan akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang gejala kusta dan tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).

Pemerintah Indonesia menargetkan bisa mengeliminasi Kusta secara keseluruhan pada Tahun 2020, namun ternyata ditemukan sebanyak 17000 kasus baru di beberapa daerah di Indonesia.



Rabu lalu tanggal 14 april, saya mengikuti Workshop Media KBR x NLR: “Media yang mengedukasi dan memberantas stigma Kusta dan Disabilitas” serta peluncuran proyek SUKA #SuaraUntukKusta yang merupakan sebuah media #SuaraUntukIndonesiaBebasDariKusta oleh NLR Indonesia.

Dengan menghadirkan narasumber, yaitu :
  1. Citra Dyah Prastuti (Pemimpin Redaksi KBR)
  2. dr. Christina Widyaningrum, M.Kes (Technical Advisor Program Leprosy Control, NLR Indonesia)
  3. Sasmito Madrim (Ketua Umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Indonesia)
  4. Lutfi Anandika (Jurnalis Majalah Diffa)
  5. Asken Sinaga (Direktur NLR Indonesia)
NLR Indonesia adalah organisasi non-pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta. Yayasan NLR Indonesia dibentuk pada tahun 2018 untuk melanjutkan pencapaian pemberantasan kusta yang telah dilakukan NLR sejak 1975.


Membuka acara workshop dan peluncuran SUKA, Asken Sinaga sebagai Direktur NLR Indonesia menyampaikan, proyek SUKA lahir dari rasa prihatin melihat saat ini tenaga ahli di bidang kusta semakin sedikit, baik itu tenaga medis maupun konsultan yang menangani psikis penderita. Dan NLR Indonesia menyatakan bahwa media sosial dan internet seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit kusta.

NLR Indonesia sendiri mempunyai beberapa program yaitu, pengendalian kusta, pencegahan disabilitas, pembangunan yang inklusif bagi penyandang disabilitas, cross cutting (pengurangan stigma dan diskriminasi bagi orang yang mengalami kusta dan orang dengan disabilitas).



Citra Dyah Prastuti selaku Pemimpin Redaksi KBR Indonesia menyampaikan hal yang senada. Selama 22 tahun berdiri di bidang jurnalistik, KBR Indonesia telah memproduksi podcast dan konten radio dan mengudara ke lebih 500 radio di Indonesia. 
Ada beberapa podcast yang diangkat oleh KBR, misalnya pembahasan tetang perempuan, Papua, dan HAM, kelompok minoritas sexual dan kesehatan mental. Topik mengenai stigma dan diskriminasi bagi penderita kusta dan orang dengan disabilitas pun diangkat.

KUSTA MASIH ADA 


dr. Christina Widaningrum, M.Kes selaku Technical Advisor Program Leprosy Control, NLR Indonesia, menyampaikan bahwa penyakit kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae). Bukan karena keturunan, kutukan ataupun guna-guna. Penyakit kusta menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lain kecuali otak. Dan penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa disabilitas bila berobat secara dini dan teratur.

Ada dua jenis penyakit kusta yaitu kusta kering (pausi basiler/PB) dan kusta basah (multi basiler/MB). Penularannya terjadi dari penderita kusta yang tidak diobati ke orang lain dengan adanya kontak yang erat dan cukup lama melalui pernapasan.

Tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta, hanya sebagian kecil saja yaitu orang yang mempunyai daya tahan tubuh yang rendah terhadap kusta. Kemungkinan anggota keluarga dapat tertular kalau penderita tidak berobat, oelh karena itu seluruh anggota harus diperiksa.



Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang tidak mudah menular. Dari 100 orang terpapar faktanya 95 orang kebal dan 5 orangnya lagi sakit dimana 3 orang diantaranya bisa sembuh sendiri dan 2 orangnya lagi sakit dan butuh pengobatan. Jadi sebenarnya tidak perlu kuatir berlebihan sampai harus mendiskriminasi penderita kusta bahkan mengucilkan.

Gejala kusta ditandai adanya bercak putih seperti panu atau kemerahan pada kulit, mati rasa, tidak gatal dan tidak sakit. Gejala lanjutnya ditandai dengan adanya gangguan fungsi organ tubuh karena kumannya sudah menyerang saraf, contohnya :
  • mata tidak bisa menutup bahkan ada yang sampai buta.
  • tangan dan kaki yang diawali dengan mati rasa di telapak, jari-jarinya kiting, memendek, putus, lunglai hingga kakinya semper.

Pencegahan kusta dan disabilitas kusta dapat dilakukan dengan cara :
  • Imunisasi BCG pada bayi dapat membantu mengurangi kemungkinan terkena kusta
  • Segera berobat ke Puskesmas bila mengalami kelainan kulit berupa bercak dan mati rasa
  • Disabilitas akibat kusta dapat dicegah dengan meminum obat dan periksa ke Puskesmas secara teratur
Penyakit Kusta dapat disembuhkan jika minum obat secara teratur dan rutin. Untuk Kusta tipe PB dapat diobat dengan minum 2 jenis obat dalam waktu 6 bulan dan untuk Kusta tipe MB dapat diobati dengan minum obat lengkap (3 jenis obat) secara rutin terus menerus dalam waktu 12 bulan. Kusta dapat disembuhkan secara total dan sempurna tanpa disabilitas.



Masalah sosial yang terjadi pada penderita kusta dan mantan penderita masih menjadi persoalan tersendiri. Akibat dari stigma dan diskriminasi yang mereka dapatkan, banyak dari mereka yang merasa tidak ada harapan dan mencoba bunuh diri, ada yang bercerai setelah terdiagnosa terkena kusta, diusir dari sekolah dan rumahnya, dikucilkan sampai ada yang memilih menikah dengan sesama penderita kusta (terutama yang disabilitas), lebih suka tinggal di penampungan dan tidak kembali ke keluarganya.

Media dan Blogger diharapkan dapat berkontribusi dalam penyebarluasan informasi yang benar tentang kusta dan konsekuensinya, agar publik dapat pengetahuan dan mempunyai persepsi yang positif tentang kusta, hingga akhirnya tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap kusta.


Memahami Kode Etik Jurnalistik




Sasmito Madrim sebagai Ketua Umum AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia menyampaikan bahwa sampai saat ini masih banyak media yang masih menggunakan diksi-diksi yang tidak manusiawi. Padahal ada kode etik yang menyebutkan untuk menghindari pemakaian kata cacat, gunakan kata penyandang disabilitas.


Penderita kusta dan penyandang disabilitas tidak mau dikasihani. Mereka juga manusia yang punya hati dan rasa. Untuk itu dalam membuat dan menyiarkan berita, jurnalis dilarang berprasangka, mengejek atau menggiring opini yang membuat orang takut dan malah membuat stigma baru dari situ.


Lutfi Anandika sebagai Jurnalis Majalah Diffa mengatakan bahwa penting sekali bagi media dalam memahami dan peka terhadap penyandang disabilitas. Jadikan nara sumber sebagai subyek berita, bukan sebagai obyek berita. Tanyakan bagaimana perasaannya, apa yang dibutuhkannya. Jika narasumber menggunakan penerjemah tetap adakan kontak mata dengan narasumber untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Agar masyarakat luas dapat mengetahui informasi kusta dengan tepat dan tidak mudah termakan stigma dan berujung dengan diskriminasi terhadap penderita kusta dan penyandang disabilitas, maka perlu dilakukan pelatihan menggali kemampuan jurnalis dan etika jurnalistik dan jangan hanya meliput dan memberitakan di momen tertentu misalnya peringatan hari kusta tapi terus konsisten setiap saat. Dengan demikian diharapkan awareness masyarakat tentang kusta makin meluas sehingga stigma dan diskriminasi tidak terjadi lagi.





#### TERIMA KASIH ###

Tidak ada komentar

Posting Komentar